08 Desember, 2008

Pak Baim dan Email

Betapa senang Pak Baim melihat Bu Baim melahirkan puteranya. Itu yang didambakan sejak bertahun-tahun. Puji sukur bergaung di any time n any where. Kebahagiaan membahana memantul ke kaki langit di cakrawala gurun. Cinta dan kebahagiaan pula yang kemudian mengantarkan Email, puteranya menjadi cowok yang ganteng dan maco. Sayangnya, kebahagiaan itu mendadak sirna bagaikan gerhana. Tiba-tiba saja malaikat mendatanginya.


Malaikat itu meminta agar Pak Baim menyerahkan kembali Email kepada Tuhan.
"Ah! Anda bercanda, khan? Masa Tuhan nyuruh kaya gitu. Gue ga' percaya! Email sudah dikaruniakan kepadaku!"
Negosiasi pun berlangsung alot. Bung Malaikat sudah berusaha dengan berbagai argumen. Tapi, Pak Baim dan Bu Baim tetap ngotot. "Apapun yang terjadi gue kagak bakalan dapat dipisahkan dengan Email".
"Waduh ... negosiasi ini bakalan deadlock, nih" Pikir Bung Malaikat.

"Emangnya Anda sangat mencintai Email?" Bung Malaikat bertanya.
"Ya jelas dong, seluruh hidupku kuberikan kepadanya karena dia karuna Tuhan untukku!" Jawab Pak Baim.
"Hem..bagus. Sepertinya Tuhan sangat mencintai Anda, ya?"
"Anda benar! Tuhan sangat mencintai aku dan isteriku!"
"Apakah Anda juga mencintai Tuhan?"
"Ya, jelas dong!" Jawab Pak Baim instan!
"Seberapa besar?"
"Wah...ya ga' bisa terkira. Pokoknya segalanya buat Tuhan deh. Karena aku juga dikarunai segalanya oleh Tuhan!"
"Oh gitu!" Bung Malaikat berpikir sebentar, "Kini, Tuhan meminta agar Email, puteramu, Anda kembalikan kepada-Nya!"
"Ah ya ga' bisa. Ia telah jadi milkku!. Dan kudidik ia agar kelak jadi presiden!"
"Pak Baim, Email memang anakmu, tapi bukan milkmu. Semua ini, aku, kau dan semesta ini milik Tuhan! Demikian juga Email. Ia milik Tuhan. Mau dijadikan apa ia kelak, jadi lurah, bupati atau presiden, itu wewenang Tuhan sebagi pemiliknya!
"Ha?" Pak Baim terperanjat.
"Tuhan hanya menitipkan Email kepada Anda dan Bu Baim. Saya juga di utus Tuhan menyampaikan penghargaan kepada Anda berdua. Anda telah mendidik Email sebagai anak yang soleh. Hanya itu tolok ukur keberhasilan orang tua terhadap anaknya. Tuhan tak menuntut lebih dari itu.Tuhan tak menuntut Anda menjadikan Email sebagai presiden atau apa!"
"Tapi, Email apa bisa mengatasi hidupnya sendiri?!"
"Pak Baim, sekali lagi, Tuhan tak membebani hambanya terlalu berat.Sejak penyerahan ini. Anda tidak lagi bertanggung jawab atasnya. Anda juga tidak berhak mengatur-atur dia. Biarkan Email sendiri yang mempertanggung jawabkan segala perbuatannya terhadap Tuhan. Anda telah mendidiknya sebagai anak soleh. Itu cukup bagi dia untuk menentukan mana yang baik dan yang buruk"
Pak Baim termenung.
"Pak Baim .. aku tahu ini berat bagi Anda! Tapi, membiarkan Email bertanggung jawab atas perbuatan sendiri, adalah bagian dari upaya mendidik juga. Bebaskan dia. Serahkan kembali ia kepada Pemiliknya!
Pak Baim tetap tak menjawab.
"Inilah cinta! Anda mencintai Bu Baim dan Email. Email mencintai kalian berdua. Semua kalian juga mencintai Tuhan. Tuhan pun mencintai kalian!" Bung Malaikat menegaskan.

"Yes, all for One, One for all. This is Onenees. Apapun untuk-Nya, dan memang milik-Nya. Aku berserah-diri " jawab Pak Baim ikhlas.

Hmm...kisah di atas bukan apa-apa, bukan tafsir bukan hikayat ...sekadar renungan ambo di hari besar yang Adha ini. Mohon maaf, jika saya salah renung. Mungkin, Bang Seno dapat memberi pemaknaan yang lebih tepat. Selamat ber-Qurban ... selamat berserah-diri kepada-Nya!

With Love, Whienda

Artikel Terkait:

19 komentar:

  1. Wuih keren banget postingannya. Saya sampai membaca ulang 4 kali, saking asiknya menikmati cerita ini.

    Wah, malu sebenarnya aku di percaya buat memaknai cerita di atas, karena di dalamnya terdapat makna yang sangat dalam. Saya takut pemaknaan saya justru mendangkalkan makna itu sendiri. Saya hanya berani bilang mencintai apapun di dunia ini, jangan sampai melebihi cinta kita kepada Sang Maha Pencipta.

    Membaca cerita di atas, saya jadi ingat akan istri tercinta saya yang sekarang sedang mengandung "email" jalan empat bulan. Semoga saya bisa membimbing "email" kelak, menjadi anak yang soleh. Amin.

    Terima kasih Wheinda. Sukses selalu. Salam buat family. Nice post.

    BalasHapus
  2. Seringkali kita merasa bahwa yang ada pada kita adalah milik kita. Kita lupa sebenarnya semua itu adalah titipan Allah SWT.
    Jika kita melupakan bahwa itu adalah titipan, maka saat titipan itu diambil, kita akan merasa keberatan.
    Pada hakikatnya kita tidak memiliki apa apa. Kita terlahir dalam keadaan telanjang, dan akan kembali kepada Nya hanya dibungkus kain kafan. Hanya catatan amal yang akan menemani kita. Semuanya akan kita tinggalkan.

    Terima kasih Whienda, semoga saya dan Whienda bisa mejaga semua amanah yang dititipkan kepada kita. Karena semuanya akan kita pertanggung jawabkan kelak.

    BalasHapus
  3. tapi cerianya sanagt inspiraif dan komunikatif....

    sederhana tapi mengena

    BalasHapus
  4. wekekk kkekk begitu to maksundnya, jadi malu hik..hik... makasih banyak Wheinda. Sukses selalu.

    Salam ke mama "email" sudah saya sampaikan, katanya salam balik he..he.. Thanks for all.

    BalasHapus
  5. Ya Allah! Senang sekali dapat feedback yang sangat berharga. Dari Bang Erik, Bang Seno dan juga Bang Aziz. You raised me up. Tengkiyu!

    BalasHapus
  6. met hari ry idul adha...
    mari kita sama-sama memaknai hari raya qurba ini :D

    BalasHapus
  7. Ceritanya bagus banget.. Tapi kok nama anaknya Email sih? Gak keren, hehehe... :)

    BTW, apa kabarnya nih mbak? FYI, saya bukan Mbak loh, hehehe... :D

    BalasHapus
  8. Amin

    Demikian anugerah Tuhan kepada sesiapa yang Ia kehendaki tanpa kira umur dan masa yang tidak di jangka, Nabi Zakaria tidak punya anak begitu lama, akhirnya dia di kurniakan anak, demikian rahmat Tuhan pada hambanya

    BalasHapus
  9. @Dillah Edutech:
    Iya ya.. Idhul Adha ini maknanya banyak banget.Walau tiap orang bisa berbeda, ya? Tengkiyu and semoga ibadah Anda ijabah!

    BalasHapus
  10. @-sLiKers-
    Nama Email kurang keren? Semula pengin aku namai GMail, tapi ga' jadi! Tak pa deh. Klo bikin cerita lagi aku namai Slikers. Keren tuh!
    Kalau aku pangil Mbak, bukan salah daku lho! Salah yang pasang foto tuh! Cantik banget! Success4U.

    BalasHapus
  11. @Pak Karamu
    Begitu ya pak? Tentang Nabi Zakaria, kali aja, Allah pengin buka mata kita, kalau Tuhan sudah mencintai, dengan rachman dan rochim-nya ... yang semula dikira mustahil pun dapat terwujud! Terima kasih, Bapak jauh-jauh telah hadir ke rumah Whienda.

    BalasHapus
  12. Anonim9.12.08

    Sorry, jadi pengin nimbrung nih! Dalam pandangan saya, tidak ada istilah memberi apalagi berkorban kepada Tuhan Tuhan tidak perlu pengorbanan kita. Lha wong semua ini milik-nya, kok! Jadi, mengembalikan sebagian harta kepada yang lebih berhak itu kewajiban! Bukan pengorbanan! Maaf, kalo beda makna! Sugeng Riyadin, jenk!

    BalasHapus
  13. Akhirnya, kamu jadi ngeblog juga, Whien?
    Pemaknaanmu bagus. Bagus juga pemaknaan Bang Seno. Mbak barusan ngelihat ke blognya Bang Seno.
    Mbak cuma ingin nambahkan, silahkan mencari makna dan hakekat sebanyak-banyaknya,
    tapi jangan lupa syari'atnya, lho!

    BalasHapus
  14. Menurut hemat saya, dalam persepktif spiritual, Idhul Adha merupakan momentum spiritual yang lebih komplek dibanding Idhul Fitri. "Pesta"
    makan daging qurban bersama-sama dengan yang lebih berhak, hanyalah sebagian dari ritual Akbar yang yang berlangsung di tanah suci, di
    Baitullah. Qurban yang berati, berserah diri, mengembalikan segalanya dalam kekuasan Allah, tidak cukup hanya diekpresikan dengan menjembelih ternak dan makan bersama.
    Whien,skin template-mu bagus!Aku suka!Jaga juga kualitas postinganmu

    BalasHapus
  15. @Anonim
    Iya ya...! Lha wong ngembaliin sesuatu kepada yang punya kok bilang berkorban. Narsis ya? :)) :)) Cara pandang yang oke juga!Tengkiyu!

    BalasHapus
  16. @Mbak Andhin
    Yaaa ..And the end! Akirnya Mbak tergoda buat kembali ngeblog ya? Gitu dong Mbak ..paling tidak sekadar buat pelipur lara! Tentang yang syari'at itu, Whienda belajar terus, kok! Matur sembah Nuwun!

    BalasHapus
  17. @Mas Ryan
    O..gitu, ya! Oke-lah Mas, ... sebizaku. Kali ini kita baru bisa ngajak orang lain makan-makan sate dan gule, gitu. Mohon doanya, suatu ketika Whienda bisa ikut ngejalanin ritual akbar di Baitullah!

    BalasHapus
  18. ni inti ceritanya soal tanggung jawab dan keikhlasan ya..?? dapat pencerahan juga disini...nice post...

    BalasHapus
  19. suatu pencerahan yang aku dptkan... :) nice posting :)

    BalasHapus

Whienda sampaikan hormat dan terimakasih atas apresiasi Anda. Semoga apresiasi Anda bukan hanya bermanfaat bagiku tapi juga untuk semua orang.

Nice Story

Ada cerita-cerita cantik di blog ini. Pendek, indah namun yang terpenting : inspiratif. Akan menjadi bagian dari pertimbangan Anda menentukan pilihan The Way of Live.

Karir

Mendukung Anda, meniti karir, mendaki langit meraih bintang. Ayo berbagi bersama saya di blog ini

Kisah Sukses

Mendukung Anda, meniti karir, mendaki langit meraih bintang. Ayo berbagi. Kita tengok cermati cara pandang, tokoh-tokoh sukses ini.

Hipnosis

Ayo, belajar hipnosis bersama saya di blog ini. Suatu yang sederhana dan alamiah yang akan membuat hidup menjadi lebih mudah untuk di jalani. Saya bantu Anda sebizaku.
Banyak cara membuat Slide Show di Sebizaku. Pasti berjalan baik. Gratis untuk Anda.

aneka slide show
Soft Transition Effect.
aneka slide show
Seperti Kompas.com punya.
aneka slide show
Random Square Transition Effect.