Tampilkan postingan dengan label Detak Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Detak Hati. Tampilkan semua postingan
30 Desember, 2009
Tahun berlalu ... aku takut!

Aku takut pengalaman tahun lalu....
Sampai aku menyadari bahwa masa lalu tidak dapat menyakitiku ,,,
Aku takut tahun baru...
Sampai aku menyadari bahwa datangnya tahun baru, menjanjikan harapan baru ...
Aku takut menjadi tua....
Sampai aku menyadari bahwa dengan bertambahnya hari aku makin dewasa ...
Aku takut langit gelap....
Sampai aku melihat indahnya cahaya bintang di sana ...
Aku takut akan nasib...
Sampai aku menyadari bahwa aku punya kekuatan untuk mengubahnya...
Aku takut perubahan....
Sampai aku menyadari tiada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri...
Aku takut akan kegagalan....
Sampai aku menyadari bahwa gagal adalah pelajaran berharga ...
Aku takut kepada Tuhan ...
Sampai aku menyadari betapa besar kasih-sayang-Nya! ...
With Love
Whienda, yang terengah-engah, mendaki langit meraih bintang
23 Desember, 2009
With Whienda You Can Get Love!
Ini lanjutan dari postinganku sebelumnya, yaitu tentang with love you can get everythink. Sesungguhnya sudah sejak lama aku mendengar kata-kata Bismllah iRochman iRochim. Sering, sangat sering kudengar. Biasanya, kalimat itu meluncur dari orang-orang: - yang mau mengangkat beban berat.- yang mau melakukan pekerjaan berisiko; - yang mau mengundi uang arisan; - bahkan juga pernah kudengar dari orang yang mau membeli lotre buntut! Sepertinya, itu kalimat sejenis japa-mantra yang dianggap mujarab untuk mendatangkan keberuntungan, semacam mantra klenik, gitu!.22 Oktober, 2009
Buat apa berumur panjang?
Kadang sumpek juga mikirin Papa yang mengidap penyakit jantung. Risih sekali jika ia mengungkapkan keinginannya untuk segera berpulang. "Buat apa sih, harus berumur panjang?", katanya.Beberapa waktu yang lalu beliau berulang tahun. Beberapa kerabat datang menyampaikan selamat panjang umur. Beberapa lagi mengirim harapan senada melalui SMS. Menanggapi ucapan tersebut Papa memang hanya tersenyum-senyum. Tapi ...
... ketika malam larut ..pas kebetulan daku juga belum tidur, seringkali Papa mengungkapkan keinginannya yang "konyol" itu. Pedih sekali daku mendengarnya. Memang sih, menurut pengalaman medis penyakit Papa tidak dapat pulih seperti sediakala. Namun, tetap berpeluang untuk dapat bertahan. Akhirnya benakku terseting juga. Buat apa harus hidup panjang? Salahkah daku berdoa, agar Papa dikaruniai umur panjang?
Daku jadi teringat dengan Ibnu Sina yang di dunia medis dikenal sebagai Avicenna. Nama lengkapnya, Ali al-Husayin Abdullah Ibnu Sina. Ia memang salah satu tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern (980-1037). Bahkan, predikat ahli medis telah ia sandang sejak berusia 18 tahun. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai ahli fisika. Di penghujung hidupnya ia membagi-bagikan harta yang dimilikinya kepada orang-orang miskin. Ungkapnya,"Saya memilih hidup yang singkat tapi penuh manfaat, daripada hidup lama tapi sedikit memberikan manfaat ." Dan, ia meninggal di usia 58 tahun, tepatnya 1 Ramadhan 428 H..
Kembali ke Papa. Ia bukan Ibnu Sina. Ia hanya seperti kebanyakan orang. Ia hanya mantan guru yang -saat ini- sepuluh tahun lebih tua daripada Ibnu sina. Meski di mataku ia sosok ayah yang luar biasa, tapi menurutnya ia belum berbuat banyak. Jadi, masih menurutnya, hidup panjang hanya akan mendekatkan pada dosa belaka ...
Daku bingung, salahkah mendoakan orang agar panjang umur? Bukankah usia seseorang sudah di "plan" oleh-Nya?
With love ... Whienda.
02 Januari, 2009
Tahun Baru: Allhamdulillah!
Kita sudah berada di tahun yang baru. Eh, maksud daku, kita sudah menggunakan kalender yang baru, tahun 2009. Kalender 2008 yang dekil dan penuh corat-coret sudah masuk keranjang sampah. Malam terompetan sudah berlalu. Terlepas dari makna spiritual yang dicari-cari, setiap orang telah menjalani malam pergantian tahun itu dengan caranya masing-masing.
Memang, sejauh kemampuanku browsing di internet, belum juga menemukan background spiritual sebagaimana tahun baru -tahun baru agama lain, misalnya Imlek, Waisak, maupun Hijriah atau Suro. Namun, apa pun alasannya Tahun Baru Masehi sudah mendunia. Diperingati maupun tidak. Dirayakan maupun tidak. Satu hal yang layak dicatat, bahwa pada malam pergantian Tahun Baru Masehi kemarin, kita semua melupakan segala perbedaan. Hampir semua warga kota Tumplek-bleg di jalan raya, melampaui pembatas agama, suku, maupun ras. Serempetan antar kendaran pun tidak menimbulkan pertengkaran. Penghuni planet maya ini pun tampak bergairah, saling "silaturahmi" antar blog, saling memberi salam, baik yang serius maupun yang jenaka.
Kiranya tidak berlebihan jika daku mengusulkan Tahun Baru Masehi sebagai Tahun Kebersamaan, Tahun Kerukunan. Itulah makna spiritual yang perlu kita bangkitkan dan bukan sekadar hura-hura apalagi huru-hara! Dengan demikian kita tidak perlu takut atau ragu melakukannya. Dan janganlah engkau mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (QS 17:36)
Dan, katakanlah (Wahai Mohammad!): “Kami telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami (Al Quran) dan kitab-kitab yang diturunkan-Nya sebelumnya.(Injil, Taurat, Zabur dsb) Maka Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.(QS, Al Ankabuut, 29:46)
Tidak ada paksaan dalam agama (QS 2:256), Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku (QS 109:6), dan tetap berpeganglah kamu semua kepada tali Allah. Dan, ditimpakan atas mereka kehinaan di mana saja berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali Allah dan tali dengan manusia (QS Ali Imran 3;103 dan 3:112 dan All Hajj 22:78).
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas berserah-diri kepada Allah, dan mengerjakan kebaikan?(QS, An Nissa, 4:25)
Masalahnya, kepada siapa daku mengusulkan hal ini? Semoga saudara-saudaraku yang berbeda agama denganku, berkenan dengan usulan ini. (Baca juga Syalom Alaikhem)
Daku sendiri juga tidak perlu memendam pilu, walau di malam itu daku berbuat keliru! Kata Bang Andi, kesalahan boleh terjadi, tapi cukup sekali. Jangan sampai karena satu kesalahan motivasi yang ada malah rusak, itu akan menciptakan bencana baru, pesan Bang Suryaden. Begitu juga kata Bang Erik, introspeksi tak perlu menunggu setahun sekali, tapi setiap hari! Kata Bang Dede, apa pun itu, yang akan datang harus lebih baik lagi. Semua perlu direncanakan untuk meminimalisasi kesalahan. Itu, nyaris senada dengan imbauan Bang Eiven Gusky dari Australia. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemain maka dia termasuk orang yang dilaknat Allah.(HR Mochamamad SAW, Buchari)
Yah, lha wong namanya juga manusia. Sesekali khilaf juga."Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya" (QS.91:7-10). Kesalahan demi kesalahan, perbaikan demi perbaikan akan menuju ke kesempurnaan. Mungkin inilah sebabnya Bang Irwan Maing mengingatkan jangan bilang Astagfirullah..bilang aja Allhamdulilah. Daku pikir benar juga, tuh! Apapun kejadiannya jka kita dapat memetik hikmahnya, sudah barang tentu yang "astagfirulah" berubah menjadi "alhamdulilah".
Benar,kok! Daku menemukan hikmahnya. Dengan kekeliruanku malam itu, daku lebih mengenal cinta. Bahwa cinta dan sex-libido adalah dua hal yang berbeda. Bukan campur aduk seperti yang dipahami oleh banyak orang. Kecupan bernada kasih amat berbeda dengan ciuman ber-energi seksual. Anggapan bahwa wanita perlu memberikan sex untuk mendapatkan cinta telah terpatahkan. Bahwa pria bilang cinta untuk memperoleh sex, bukanlah sikap semua pira. Bahwa terlalu asyik pacaran mendekatkan ke dosa, telah terbantahkan. Dua orang yang saling bercinta, satu sama lain tidak akan saling memberi derita. Malam itu cinta telah menyelamatkan daku dari jurang dosa yang lebih dalam. Dan, Mbak Dian tak perlu "gedubrakan" gara-gara sebuah ciuman!
Allhamdulilah. Tuhan mengaruniai daku sahabat dan saudara yang harus kubanggakan. Itu hadiah Tahun Baru yang amat berharga.
(Sayangnya, Bang Seno ga' di rumah. Entar aja deh, akan daku kerjain dengan cara yang lain lagi!)
Memang, sejauh kemampuanku browsing di internet, belum juga menemukan background spiritual sebagaimana tahun baru -tahun baru agama lain, misalnya Imlek, Waisak, maupun Hijriah atau Suro. Namun, apa pun alasannya Tahun Baru Masehi sudah mendunia. Diperingati maupun tidak. Dirayakan maupun tidak. Satu hal yang layak dicatat, bahwa pada malam pergantian Tahun Baru Masehi kemarin, kita semua melupakan segala perbedaan. Hampir semua warga kota Tumplek-bleg di jalan raya, melampaui pembatas agama, suku, maupun ras. Serempetan antar kendaran pun tidak menimbulkan pertengkaran. Penghuni planet maya ini pun tampak bergairah, saling "silaturahmi" antar blog, saling memberi salam, baik yang serius maupun yang jenaka.
Kiranya tidak berlebihan jika daku mengusulkan Tahun Baru Masehi sebagai Tahun Kebersamaan, Tahun Kerukunan. Itulah makna spiritual yang perlu kita bangkitkan dan bukan sekadar hura-hura apalagi huru-hara! Dengan demikian kita tidak perlu takut atau ragu melakukannya. Dan janganlah engkau mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (QS 17:36)
Dan, katakanlah (Wahai Mohammad!): “Kami telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami (Al Quran) dan kitab-kitab yang diturunkan-Nya sebelumnya.(Injil, Taurat, Zabur dsb) Maka Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.(QS, Al Ankabuut, 29:46)
Tidak ada paksaan dalam agama (QS 2:256), Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku (QS 109:6), dan tetap berpeganglah kamu semua kepada tali Allah. Dan, ditimpakan atas mereka kehinaan di mana saja berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali Allah dan tali dengan manusia (QS Ali Imran 3;103 dan 3:112 dan All Hajj 22:78).
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas berserah-diri kepada Allah, dan mengerjakan kebaikan?(QS, An Nissa, 4:25)
Masalahnya, kepada siapa daku mengusulkan hal ini? Semoga saudara-saudaraku yang berbeda agama denganku, berkenan dengan usulan ini. (Baca juga Syalom Alaikhem)
Daku sendiri juga tidak perlu memendam pilu, walau di malam itu daku berbuat keliru! Kata Bang Andi, kesalahan boleh terjadi, tapi cukup sekali. Jangan sampai karena satu kesalahan motivasi yang ada malah rusak, itu akan menciptakan bencana baru, pesan Bang Suryaden. Begitu juga kata Bang Erik, introspeksi tak perlu menunggu setahun sekali, tapi setiap hari! Kata Bang Dede, apa pun itu, yang akan datang harus lebih baik lagi. Semua perlu direncanakan untuk meminimalisasi kesalahan. Itu, nyaris senada dengan imbauan Bang Eiven Gusky dari Australia. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemain maka dia termasuk orang yang dilaknat Allah.(HR Mochamamad SAW, Buchari)
Yah, lha wong namanya juga manusia. Sesekali khilaf juga."Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya" (QS.91:7-10). Kesalahan demi kesalahan, perbaikan demi perbaikan akan menuju ke kesempurnaan. Mungkin inilah sebabnya Bang Irwan Maing mengingatkan jangan bilang Astagfirullah..bilang aja Allhamdulilah. Daku pikir benar juga, tuh! Apapun kejadiannya jka kita dapat memetik hikmahnya, sudah barang tentu yang "astagfirulah" berubah menjadi "alhamdulilah".
Benar,kok! Daku menemukan hikmahnya. Dengan kekeliruanku malam itu, daku lebih mengenal cinta. Bahwa cinta dan sex-libido adalah dua hal yang berbeda. Bukan campur aduk seperti yang dipahami oleh banyak orang. Kecupan bernada kasih amat berbeda dengan ciuman ber-energi seksual. Anggapan bahwa wanita perlu memberikan sex untuk mendapatkan cinta telah terpatahkan. Bahwa pria bilang cinta untuk memperoleh sex, bukanlah sikap semua pira. Bahwa terlalu asyik pacaran mendekatkan ke dosa, telah terbantahkan. Dua orang yang saling bercinta, satu sama lain tidak akan saling memberi derita. Malam itu cinta telah menyelamatkan daku dari jurang dosa yang lebih dalam. Dan, Mbak Dian tak perlu "gedubrakan" gara-gara sebuah ciuman!
Allhamdulilah. Tuhan mengaruniai daku sahabat dan saudara yang harus kubanggakan. Itu hadiah Tahun Baru yang amat berharga.
(Sayangnya, Bang Seno ga' di rumah. Entar aja deh, akan daku kerjain dengan cara yang lain lagi!)
01 Januari, 2009
Tahun Baru: Astagfirullah!
Sejak dari area parkir daku sudah berjalan nggremet. Bakan baru benar-benar keluar dari halaman gedung bioskop sudah pukul 11.40. Tapi daku terjebak di kemacetan yang lebih berjubel. Kalau pada hari biasa, pasti daku udah stress. Tapi, di malam pergantian Tahun Baru ini malah sebaliknya. Macet begini malah seneng! Apalagi ada si doi di samping gue! Inilah nikmatnya Malam Tahun Baru. Sangat membahagiakan! Dan, daku bersandar di pundak si Doi yang lagi nyetir. Hii..hiik kaya Mr and Mrs Smith aja!
Pada awalnya memang sengaja jendela mobil kubiarkan terbuka. Biar mereka pada ngiri. Ngga', ding!. Maksud daku pengin ngerasain udara Malam Tahun Baru, yang kayak apa, gitu. Eee..tahu-tahu ada yang nyelonongin terompet dan meniupnya keras-keras. “Tret … tet…tet!” Daku terkejut. Malah remaja nakal itu tersenyum cengengesan. Sialan!
Ya udah, daku tutup aja jendelanya rapat-rapat. Jadi bunyi terompet dan deru motor-motor itu cuma terdengar sayup-sayup. Dunia pun jadi milik daku berdua. Cee..ille!
Pas jam digital di dashboard menunjukkan angka 00.00, entah siapa yang mengomando, serentak bunyi klakson mobil membahana. Teriakan terompet bersahut-sahutan. Ada yang meniupnya sambil berdiri dan menari-nari di atas motornya! Begitu juga mereka yang berada di trotoar! Gila! Euferia, gitu!
Dan...tiba-tiba si Doi mendaratkan ciumannya di pipiku. Kanan, lalu kiri. Sempat kulihat wajahnya sangat bahagia. Ku tatap matanya ... eh, kayaknya dia akan mengatakan sesuatu. Pasti sesuatu itu rangkaian kata-kata indah, kaya di film tadi. Aku pun memejamkan mata, siap menikmati kata-kata indahnya!
Yang terjadi ternyata beda! Ia bahkan mengecup bibirku. Melumatnya, malah! Darahku terkesiap. Jiwaku terasa melayang. Entah berapa lama ia melakukannya, hingga dadaku terasa sesak... nafasku pun terengah-engah ... tubuh ini mau meledak rasanya!
Tapi, entah mengapa, tiba-tiba ada kekuatan pada diriku untuk menarik diri menjauh darinya. Bibirku begetar, "Istigfar ..istigfar!"
Walaupuin ucapanku lirih, ternyata ia mendengarnya. Ia melepaskan pelukannya. Lalu tertunduk. Daku juga.
Speakless!
----------------------------------------------
Hari pertama tahun 2009 ini aku bangun kesiangan!
Bukan lantaran tidur nyenyak, bahkan karena gelisah. Resah!
Beginikah caraku mengawali tahun yang baru?
Mengapa di Tahun Baru ini semuanya begitu permisif?
Semuanya jadi lepas dari segala ikatan, lepas kendali?
Mengapa bukan mengasah kemampuan pengendalian diri, refleksi, introspeksi dan membangun harapan?
Baru tiga hari yang lalu daku lakukan kontemplasi Satu Muharam ...
Berniat hijrah dari jalan berliku ke jalan lurus mengarah ke cahaya-Nya?
Bahkan... kini tersandung, terjebak di dosa baru yang lain...oh!
Inikah caraku meninggalkan malam akhir tahun?
Malam tanpa Salat Tahajut ... tidak ada Salat Subuh ...?
dan lumatan bibir yang melayangkan kesadaran ....!
Memulai langkah setahun kedepan dengan dosa?
"Whienda..istighfar ...istighfar!" Siapakah yang membisikkan itu, "Istighfar-lah Whien..." bisiknya lagi:
Astaghfirullah All Aziim ... Astaghfirullaha Rabii minqulli dzanbin wa atuubu Illaihi!
Ya Allah mohon ampunan-Mu. Ya Allah, Ya Rabbi Yang Maha Kasih dan Maha Agung, mohon diterima taubat hamba kepada Mu, Ya Allah
Allahuma baa'id baini wa baina khatayaya kama baadta bainal masriqi wal maghribi ...
Ya Allah..mohon jauhkanlah hamba dari kesalahan dan dosa sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat ..
Lha Illaha ha' Ilalah, Lha Illaha ha' Ilalah,
Lha Illaha ha' Ilalah, Lha Illaha ha' Ilalah,
Lha Illaha ha' Ilalah, Muhammad ar'Rasul Allah
................................................................
Ya Allah, Jika bibir ini tak mampu berkata-kata..terimalah tetes airmata ini ..Ya Allah!
Duh Gusti Allah ..bilih lati puniko boten saged wicanten, mugi katampia tetesing waspa punika ...
Duh Gusti ingkang Maha Welas lan Asih ...
Pada awalnya memang sengaja jendela mobil kubiarkan terbuka. Biar mereka pada ngiri. Ngga', ding!. Maksud daku pengin ngerasain udara Malam Tahun Baru, yang kayak apa, gitu. Eee..tahu-tahu ada yang nyelonongin terompet dan meniupnya keras-keras. “Tret … tet…tet!” Daku terkejut. Malah remaja nakal itu tersenyum cengengesan. Sialan!
Ya udah, daku tutup aja jendelanya rapat-rapat. Jadi bunyi terompet dan deru motor-motor itu cuma terdengar sayup-sayup. Dunia pun jadi milik daku berdua. Cee..ille!
Pas jam digital di dashboard menunjukkan angka 00.00, entah siapa yang mengomando, serentak bunyi klakson mobil membahana. Teriakan terompet bersahut-sahutan. Ada yang meniupnya sambil berdiri dan menari-nari di atas motornya! Begitu juga mereka yang berada di trotoar! Gila! Euferia, gitu!
Dan...tiba-tiba si Doi mendaratkan ciumannya di pipiku. Kanan, lalu kiri. Sempat kulihat wajahnya sangat bahagia. Ku tatap matanya ... eh, kayaknya dia akan mengatakan sesuatu. Pasti sesuatu itu rangkaian kata-kata indah, kaya di film tadi. Aku pun memejamkan mata, siap menikmati kata-kata indahnya!
Yang terjadi ternyata beda! Ia bahkan mengecup bibirku. Melumatnya, malah! Darahku terkesiap. Jiwaku terasa melayang. Entah berapa lama ia melakukannya, hingga dadaku terasa sesak... nafasku pun terengah-engah ... tubuh ini mau meledak rasanya!
Tapi, entah mengapa, tiba-tiba ada kekuatan pada diriku untuk menarik diri menjauh darinya. Bibirku begetar, "Istigfar ..istigfar!"
Walaupuin ucapanku lirih, ternyata ia mendengarnya. Ia melepaskan pelukannya. Lalu tertunduk. Daku juga.
Speakless!
----------------------------------------------
Hari pertama tahun 2009 ini aku bangun kesiangan!
Bukan lantaran tidur nyenyak, bahkan karena gelisah. Resah!
Beginikah caraku mengawali tahun yang baru?
Mengapa di Tahun Baru ini semuanya begitu permisif?
Semuanya jadi lepas dari segala ikatan, lepas kendali?
Mengapa bukan mengasah kemampuan pengendalian diri, refleksi, introspeksi dan membangun harapan?
Baru tiga hari yang lalu daku lakukan kontemplasi Satu Muharam ...
Berniat hijrah dari jalan berliku ke jalan lurus mengarah ke cahaya-Nya?
Bahkan... kini tersandung, terjebak di dosa baru yang lain...oh!
Inikah caraku meninggalkan malam akhir tahun?
Malam tanpa Salat Tahajut ... tidak ada Salat Subuh ...?
dan lumatan bibir yang melayangkan kesadaran ....!
Memulai langkah setahun kedepan dengan dosa?
"Whienda..istighfar ...istighfar!" Siapakah yang membisikkan itu, "Istighfar-lah Whien..." bisiknya lagi:
Astaghfirullah All Aziim ... Astaghfirullaha Rabii minqulli dzanbin wa atuubu Illaihi!
Ya Allah mohon ampunan-Mu. Ya Allah, Ya Rabbi Yang Maha Kasih dan Maha Agung, mohon diterima taubat hamba kepada Mu, Ya Allah
Allahuma baa'id baini wa baina khatayaya kama baadta bainal masriqi wal maghribi ...
Ya Allah..mohon jauhkanlah hamba dari kesalahan dan dosa sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat ..
Lha Illaha ha' Ilalah, Lha Illaha ha' Ilalah,
Lha Illaha ha' Ilalah, Lha Illaha ha' Ilalah,
Lha Illaha ha' Ilalah, Muhammad ar'Rasul Allah
................................................................
Ya Allah, Jika bibir ini tak mampu berkata-kata..terimalah tetes airmata ini ..Ya Allah!
Duh Gusti Allah ..bilih lati puniko boten saged wicanten, mugi katampia tetesing waspa punika ...
Duh Gusti ingkang Maha Welas lan Asih ...
17 Desember, 2008
Papa, segera sembuh, ya ...
Tidurlah, Papa…
Kudendangkan lagunya Ebit ini untukmu …
Walau terdengar sumbang …
Tapi ... kulakuan sebisaku ..
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
benturan dan hempasan, terpahat di keningmu
kau nampak tua dan lelah,
keringat mengucur deras namun kau tetap tabah
meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin syarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk
namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia ...
Tidurlah, Pa…
Andaikan aku bisa berpuisi .. kubacakan untukmu,
Walau terdengar parau ..
Aku lakukan sebisaku
Andaikan aku bisa menjadi ...oh...
Semua untukmu, Papa ..segalanya ...
kulakukan sebisa-sebisaku…
walau kadang terlihat melampaui cakrawalaku …
Maafkan aku, Pa,
Anakmu yang kini hanya bisa berdoa …
Doa yang tak akan pernah sumbang …
Takkan pernah parau ...
hingga kapan pun …
13 Desember, 2008
Papa, aku bangga jadi anakmu!
Kemudian, dengan lemah ia meletakkan sebutir earphone di kepalaku. Sebutir earphone yang lain masih berada di telinganya. Aku tahu. Papa ingin aku bersamanya mendengarkan musik kesayangannya. Yaitu, My Way. Itu lagu karya Paul Anka yang dinyanyikan oleh Frans Sinatra.
Dalam pelukannya, aku merasakan detak jantung Papa. Detak itu berirama seiring musik yang kami dengar. Detak jantung itu kayaknya juga tampak di layar monitor pesawat ECG di sampingnya. Rasanya jantungku juga berdetak keras, mengikuti kata demi kata dari lyrik lagu My Way berikut:
Kini, mendekati saat terakhir
Aku menghadapi tirai penentuan
Kawan, akan kupaparkan dengan jelas
Telah kuselesaikan masalahku dengan pasti
Telah kujalani hidupku seutuhnya
Kulalui liku-liku di setiap jalan raya
Dan lebih ... lebih banyak lagi
yang kulakukan dengan caraku
Penyesalan ... sangat banyak kulakukan
.. terlalu banyak untuk kurasakan
Telah kulakukan apa yang harus kulakukan
Dengan kesungguhan hati tanpa berdalih
Kurancang karakter jiwa yang tegar
Ini langkah penuh kehati-hatian di sepanjang jalan raya
dan ..
Lebih banyak yang kulakukan
inilah jalan hidupku
Yah ... pada saatnya, kuyakin kau tahu, ketika ...
aku memaksa diri menghadap segalanya ...
Aku tahu harus kuatasi semuanya
Dan ketika kujumpai keraguan ...
Aku benci itu ..
Kumuntahkan segala kebimbangan
Kujalani semuanya dengan tegar...
Aku melakukan dengan caraku ...
Aku punya cinta ... aku tertawa .. dan menangis
Dengan itu kuatasi semua perasaan kegagalanku
Kini ... seiring airmata yang mengering
Kutemukan segalanya yang menakjubkan
Berpikir bahwa: aku tidak bisa melakukan apa-apa
Itu adalah cara yang memalukan
Oh, tidak! ... Itu bukan diriku
Akan kulakukan segalanya ...
inilah jalanku ...
Buat apa jadi manusia
... jika yang dimiliki bukanlah dirinya sendiri
... jika tak sanggup mengatakan kebenaran yang dirasakan ..
Itu bukan ucapan manusia yang bertakwa ( to kneel, berlutut, bersujud)
yang diperlihatkan hanyalah hembusan angin belaka
Kujalani hidupku ... dengan caraku...
--------------------------
Dalam derita itu, aku makin tahu siapa Papa. Aku yakin, Papa ingin anaknya lebih mengenal dirinya lewat My Way, lagu kesayangannya.
Papa... aku bangga kepadamu ... aku bangga jadi anakmu...!
Aku berjanji Pa, akan kujalani hidup ini dengan caramu ... dengan caraku ...
sebisaku...
sebisa-bisaku...
03 Desember, 2008
Bikin puas orang? Ga' gampang, ya?
Pagi tadi daku ke sebuah kantor BUMN yang gede. Di sana, tampak bapak-bapak yang maco-maco berseliweran. Gentar juga hati ini. Gimana ya, ngadepin mereka nanti? Kakiku gemetaran, lututku saling beradu. Tubuh yang memeluk laptop ini kayaknya mau tumbang rasanya.
Daku hanya diberi waktu 15 menit untuk presentasi. Untungnya, setelah baca basmalah. Daku beroleh keberanian. Pada menit-menit pertama kayaknya daku mulai dapat perhatian. Bos-bos itu tampak tersentum-senyum. Kemudian antar mereka saling berbisik. Pandangan mereka tak lepas dari silver-screen yang menampilkan slide-slide ku silih-berganti. Makin lama daku makin pede-aja. Bibirku mulai ga' tak tersendat-sendat lagi.
Sebelnya, setelah waktu habis ...bla..bla..bla berendah hati ... kok, ga' ada yang tepuk tangan? Sesudah kasih ucapan: "Terimakasih presentasinya", bersalaman sedikit, trus bos-bos itu pada ninggalin ruangan? Apa karena sudah mepet waktu istirahat makan siang? Keburu laparkah mereka?
Daku kecewa, kecewa banget. Ketika daku ngeberesin laptop, seseorang mendekat sambil memuji: "Slidenya bagus-bagus!". Matiiik daku! Hampir pingsan rasanya. Yang dipuji kok cuma slide-nya. Trus materi presentasiku gimana? Self-presenting-ku gimana?
Memang sih, sebelumnya, week-endku habis untuk bikin slide. Acara kencan, di-cancel!. Maksud daku biar materi presentasi lebih "nguess.." gitu! Tapi, kenyataannya ... ya, kayak gitu...!
Yeah... hingga malam, bahkan sampai pagi ..mataku cuma bisa kelip-kelip. Susah amat sih bikin orang puas? Trus .. gimana besok? Padahal daku harus melapor ke Boss? Mohon doa nya, ya? Semoga besok pagi ... Boss ga' ngantor! Entah karena apa gitu! Karena nganter isterinya ke mall atau apa ...
16 November, 2008
About Gue
Pada awalnya, hingga selesai SMA kayaknya segalanya lancar-lancar saja. Masa sekolah, masa remaja aku lalui dengan segenggam cita-cita jadi psikolog. Pada saat itu, kayaknya sama sekali tidak ada kekawatiran tentang masa depan. Ternyata, aku gagal masuk UMPTN. Akhirnya milih kuliah sekenanya … di akutansi! Yeaah … dengan sisa harapan … ee … barangkali kelak bisa jadi akunting. Cuma ...kadang terselip juga harapan yang terdengar lucu.Manusia boleh berusaha tapi Tuhan jua yang menentukan. Siapa tahu kuliah di akuntansi kelak bisa jadi psikolog?
Selesai kuliah akutansi, mendadak kayak terbangun dari mimpi. Menenteng map berisi ijasah berkelana dor-to-dor…melamar pekerjaan, mengikuti berbagai tes …ee…yang didapat cuma predikat pengangguran. Oh, gelap nian masa depan ini!
Hitung-hitung cari pengalaman, trus aku kerja di sebuah perusahaan kontraktor sebagai tukang entri data!
Akan tetapi, pertanyaan “siapa saya” tak kunjung reda. Pertanyan itu selalu mengganggu mimpi indahku. Iseng-iseng, terbawa arus, aku mengikuti Pelatihan Pemberdayaan Diri. Pelatihannya sangat menarik dan menggugah. Bahwa dalam setiap insan terdapat potensi besar yang selama ini dibiarkan tertidur lelap ... yaitu -sederhana saja- kemauan! Dengan berbekal kemauan pula aku nekat bergabung di Lembaga HRD ... tanpa bekal pengetahuan psikologi … secuilpun! Ya, kemauan itu saja! Konsekuensinya … aku harus belajar dari para senior ... harus lebih gigih dari yang selama ini pernah aku lakukan di media pendidikan formal! (Nama kantor tidak saya cantumkan ... sebab kalu saya salah tidak membaa-bawa nama kantor)
Namun demikian, walaupun aku sekarang boleh menyandang gelar trainer yunior, Anda jangan tanya dulu “siapa saya”. Aku belum dapat menjawabnya. Itu masih aku perjuangkan dengan berbagai cara yang dapat aku lakukan. Salah satunya ya … berupaya menimba ilmu dari aktivitas nge-blog ini.
Akhirnya aku hanya bisa berharap ... semoga Anda tidak pelit berbagi gagasan di sini, tentang apapun … pastilah akan menjadi modal besar untuk menemukan “siapa saya” itu!
Tidak harus sebuah pikiran besar … … Little think to bigger change. Whinda.
Langganan:
Postingan (Atom)





