Tampilkan postingan dengan label Karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karir. Tampilkan semua postingan
08 Oktober, 2012
30 Maret, 2010
Mengatasi Ngantuk di Kantor 2
Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang mengatasi ngantuk di kantor. Itu salah satu postingan saya yang banyak menarik minat pengunjung. Maklum, tentang ngantuk di kantor ini memang sangat mengganggu performance seseorang. Kredibilitas kita sebagai bintang kinerja bisa terancam. Sayangnya, solusi yang kuberikan waktu itu, tidak berlaku bagi semua orang dan semua kasus. 06 Desember, 2009
Perjuangan Pria Perkasa
Tanggal 9-9-2009 pukul 09.19 yang lalu, telah hadir seorang pria di antara keluarga besar kami. Kehadiran di hari penuh berkah itu bagaikan menghidupkan kembali Papa yang terkesan "bosan di dunia". Bukan hanya karena ia adalah cucu pertamanya, tapi juga karena kelahirannya yang luar biasa. Maka, si Eyang meyakini pria itu membawa amanah 99 Asma'ul Husna. Oleh karenanya pula, si Eyang memberi nama pria itu RochulHusna. Kami memanggilnya Rocky.
Lusa, 9 Desember, pria itu akan berusia 3 bulan. Namun, ia mulai berusaha menunjukkan jati dirinya sebagai pria perkasa. Ia akan membuktikan dirinya sanggup tengkurab. Untuk itu ia rela melepaskan botol kesayangannya.
Ia mengangkat kedua kakinya, dan berusaha memiringkan tubuhnya.Tapi, gagal!
Lalu, ia membiarkan satu kakinya diam, kaki yang lain menekan ke alas tidur.
Gagal lagi! Kali ini ia mencoba memalingkan kepalanya.
Gagal, juga!

Sudah barang tentu, kegagalannya itu membuatnya kecewa.
Tapi ia tak larut dalam frustasi. Pria perkasa itu kembali mencoba.
Dia terus berusaha dengan berbagai macam cara.

Keringatnya becucuran ... berbaur air mata!
Nafasnya terengah-engah. Namun, ia tak berhenti berusaha!
Ia coba sekali lagi dan sekali lagi.
Gagal dan gagal lagi!

Nyaris berhasil, tapi muncul lagi masalah baru. Leher pria itu belum kuat menyangga. Maka, kepalanya terbenam di kasur.
Ia nyaris tak dapat bernafas, bahkan tidak pula untuk sekadar berteriak.
Sungguh ... perjuangan yang berisiko tinggi.
Nafasnya bisa tersumbat! Itu bisa fatal!

Aku tahu, kau gagal hari ini. Tapi, tidak di esok pagi!
Aku tahu kau akan mencoba lagi...
Lagi dan lagi ...!
Al Husna! Lelaki sepertimu tak pantas menyerah!
Ini perjuangan pertamamnya. Kelak 22 tahun mendatang mungkin pria itu bergelar sarjana. Tapi, bukan berarti perjuangan telah selesai ...dan tidak akan pernah selesai.
Tantangan demi tantangan ..masalh akan beruntun susul-menyusul.
Mungkin, pria itu akan menangis seperti yang sering kulakukan.
Tak ada salahnya menangis. Asal tahu saja, bawa tangis itu bukan persyaratan untuk menang! Juga bukan alasan untuk gagal!
Hari ini ... adalah pelajaran pertamamu dari-Nya...
bahwa hidup ini adalah perjuangan ...
perjuangan tiada akhir...
Selamat berjuang Rocky, RochulHusna ..amanah 99 Asma Allah.
With Love, Whienda.
04 Desember, 2009
Bekerja keras! Cukupkah itu?
Never stop training, learning, listening: Anda dan saya pasti sudah sering mendengar, bahkan sepakat bahwa bekerja keras sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas hidup seseorang. Marilah kita uji kebenarannya dengan kisah nyata berikut ini.Roni adalah pemuda desa asal Bojonegoro yang bernama asli Sahroni. Ketika merantau ke Surabaya, ia "terdampar" di tempatku berjualan ayam goreng. Pada awalnya ia kutugasi mengambil ayam-hidup di pasar Wonokromo. Ia jugalah yang mengantar makanan ke alamat pembeli yang memesan lewat telepon. Dia benar-benar pekerja keras yang pernah daku kenal. Apakah hasil kerja keras itu?
Daku sangat menyenanginya. Oleh karenanya, dia berhak menerima gaji di atas rata-rata. Bahkan, ia juga berhak mendapatkan kredit sepeda motor, walaupun (pada awalnya) atas namaku. Di samping itu, ia juga menikahi Lies, salah seorang karyawatiku. Itulah beberapa di antaranya, yang ia peroleh dengan bekerja keras.
Selama bekerja di tempatku, ternyata ia mempelajari banyak hal. Maka, ia pun mengetahui banyak hal tentang kewirausahaan. Bahkan, ia mampu kulepas menjaga warung, nyaris tanpa pengawasan. Ia sendirilah yang menciptakan proses belajar. Pasalnya, daku merasa tidak pernah dengan sadar, sengaja memberi pelajaran baginya.
Dan, setelah merasa pengetahuan dan ketrampilannya memadai. Ia minta saranku untuk membuka warung sendiri. Jamal, adiknya, menggantikan tugasnya di tempatku. Senang sekali daku mendengar rencananya itu.
Kini, -bisa Anda tebak- sebuah loncatan terjadi. Kehidupan Roni jauh lebih baik di banding sekadar bekerja keras bersamaku. Betapapun, kini ia telah menjadi seorang boss! Kadar "bekerja kerasnya" pun berkurang (kuantitatif) . Bahkan, ia punya banyak waktu libur. Di waktu libur demikian, ia bisa seharian di rumahku bercanda dengan Nia, anak gadisnya, hadiah dari Lies, "mantan rekan kerjanya" di tempatku.
Bagi Roni, bekerja keras saja tidak cukup, dia harus mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya. Itulah yang diyakini Roni, pemuda desa dari Bojonegoro.
So, Never stop training, learning, listening.
With Love, Whienda.
Posting sejenis: Kerja keras adalah energi kita.
Baca juga: Dipecat atau ditrining?
08 Januari, 2009
Bertempur atau Kabur?
Fight or fligh. Bertempur atau kabur! itu adalah dua respon naluriah yang mendasar ketika seseorang menghadapi tantangan. Ketika sinyal tantangan masuk ke otak, organ ini mengalirkan kortisol sekaligus juga katekolamin. Kortisol inilah yang menyebabkan kita mengalami skeptis, kecemasan, frustasi, dan ketakutan. Lalu, kabur
Sebaliknya, mengalirnya zat-zat katekolamin, mendorong kita untuk menjadikan tantangan tesebut sebagai permainan yang mengasyikkan. Apa, sih ...ini?
Apa yang terjadi ketika sesorang yang berupaya berprestasi? Pada saat itu, ia mengalami kondisi flow. Proses neuropsikologis mengenai hal ini telah terungkap. Ketika kita menghadapi tantangan, otak kita mengalirkan zat-zat biokimia yang dipicu oleh sisitim adrenal (adrenalin dan nerodrenallin). Bahan-bahan ini menyiapkan otak agar siaga, penuh perhatian, tertarik, dan berenergi. Fight-motivation yang sangat besar inilah yang sering disebut orang sebagai adrenaline rush(banjir adrenalin)
Adrenalin mempunyai efek penguatan diri, menimbulkan gairah, kesenangan, dan kegembiraan, sebagaimana kita bermain-main. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan seseorang mencapai performance-nya yang tertinggi.
Sebaliknya jika adrenalin tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, ia akan berubah menjadi racun bagi tubuh kita. Otak yang keracunan seperti ini ditandai dengan keadaan apatis (yang paling ringan) hingga depresi yang berpengaruh besar terhadap kesehatan psikis maupun pisik.
Asyik (flow) menghadapi tantangan pekerjaan, bukan hanya membawa Anda memperoleh performance-star, tetapi juga kebahagiaan dan kesehatan.
Fight or Flight! Karena semua orang tidak ingin sakit, maka berprestasi (fight) adalah satu-satunya pilihan! (Danel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, Gramedia,1999).
Kalau gitu, berprestasi kita anggap main-main aja, ya? Tapi, meski bermain-main, penginnya selalu menang, ya? Kalah juga ga'pa-apa, kok. Kalau menang ya lebih senang! Yang penting 'kan kita dapat hidup sehat, baik mental maupun pisik. (Dan tidaklah kehidupan dunia ini hanyalah sendau gurau dan main-main?...QS,Al-Ankabut,29:64)
Sebaliknya, mengalirnya zat-zat katekolamin, mendorong kita untuk menjadikan tantangan tesebut sebagai permainan yang mengasyikkan. Apa, sih ...ini?
Apa yang terjadi ketika sesorang yang berupaya berprestasi? Pada saat itu, ia mengalami kondisi flow. Proses neuropsikologis mengenai hal ini telah terungkap. Ketika kita menghadapi tantangan, otak kita mengalirkan zat-zat biokimia yang dipicu oleh sisitim adrenal (adrenalin dan nerodrenallin). Bahan-bahan ini menyiapkan otak agar siaga, penuh perhatian, tertarik, dan berenergi. Fight-motivation yang sangat besar inilah yang sering disebut orang sebagai adrenaline rush(banjir adrenalin)
Adrenalin mempunyai efek penguatan diri, menimbulkan gairah, kesenangan, dan kegembiraan, sebagaimana kita bermain-main. Kondisi seperti inilah yang mengakibatkan seseorang mencapai performance-nya yang tertinggi.
Sebaliknya jika adrenalin tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, ia akan berubah menjadi racun bagi tubuh kita. Otak yang keracunan seperti ini ditandai dengan keadaan apatis (yang paling ringan) hingga depresi yang berpengaruh besar terhadap kesehatan psikis maupun pisik.
Asyik (flow) menghadapi tantangan pekerjaan, bukan hanya membawa Anda memperoleh performance-star, tetapi juga kebahagiaan dan kesehatan.
Fight or Flight! Karena semua orang tidak ingin sakit, maka berprestasi (fight) adalah satu-satunya pilihan! (Danel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, Gramedia,1999).
Kalau gitu, berprestasi kita anggap main-main aja, ya? Tapi, meski bermain-main, penginnya selalu menang, ya? Kalah juga ga'pa-apa, kok. Kalau menang ya lebih senang! Yang penting 'kan kita dapat hidup sehat, baik mental maupun pisik. (Dan tidaklah kehidupan dunia ini hanyalah sendau gurau dan main-main?...QS,Al-Ankabut,29:64)
07 Januari, 2009
Cari Makan atau Berprestasi?
Pada zaman purbakala, di sebuah perkampungan di pinggir hutan, hiduplah seorang pemuda tangguh. Sebut saja, Rico (Ada nggak' ya, nama Rico di zaman itu?). Seperti kebanyakan penduduk kampung itu, Rico setiap hari pergi ke hutan, mencari makan. Apa sajalah, bisa buah-buahan, binatang atau apa..yang bisa di makan. Pasalnya, cari hamburger di hutan juga' ga' bakalan nemu!Trus, gimana ...?
Biasanya, warga kampung itu memasang jerat untuk menangkap kelinci. Sisa waktunya buat bersendau gurau atau tidur-tiduran. Kalau ada kelinci yang terjerat ya beruntung, kalau tidak, .... ya, ... laper!
Tapi Rico berpikir lain! Hari itu ia tampak berjalan merunduk di hutan dengan membawa panah. Setelah beberpa kali gagal memanah, akhirnya ia dapat juga seekor kelinci.Sore itu, sementara yang lain pulang dengan tangan hampa, Rico membawa seekor kelinci gemuk untuk mengisi perutnya.
Dari hari ke sehari, kemampuan Rico dalam hal memanah kelinci makin meningkat! Prestasinya makin meningkat. Dalam sehari kadang dua atau tiga ekor kelinci berhasil diperoleh. Lho! untuk apa? Ia makan semua? Jelas tidak! Seekor kelinci cukup banyak untuk isi perutnya. Sisanya..ia bagi-bagikan kepada tetangga.
Dasar Rico! Kini dia tidak lagi puas hanya memanah kelinci. Memanah kelinci bukan lagi tantangan baginya. Kini ia mengubrr-uber kijang! Jauh lebih sulit memang! Tapi, ..ketika ia pulang dengan memanggul seekor kijang, warga kampung mengelu-elukan dan memberinya tepuk tangan.
Kini Rico tak lagi bekerja keras demi perut. Dengan kemampuannya itu, ia merasa puas ketika tetangganya pada makan kijang hasil kerja kerasnya. Padahal..dia dulu juga ga' becus memanah seperti tetangganya yang lain!
Pada awalnya ia hanya berusaha mencari tantangan. Jika berhasil mengalahkan, ia merasa puas. Bahagia! Kini bahkan terbalik ..tantangan justru menghadangnya! Tantangan terberat baginya adalah ... ketika warga kampung memilihnya menjadi kepala suku! Dan ..ia merasa tak bisa menghindari tantangan itu!
............
Cerita ini cuman rewriter! Daku tulis-ulang sebisaku dari karya Yon Paulanka, Achevemnt Motivation Development, terbitan HRDMedia. "Sesungguhnya setiap orang -disadari atau tidak- memiliki motivasi berprestasi, namun kadar atau tingkatnya berbeda-beda. Faktor pemuas-nya juga berbeda-beda. Rico, hanyalah manusia biasa yang berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Itulah yang memberinya kepuasan hidup" demikian lanjut Yon Paulanka.
Sesungguhnya apa sih yang dicari Rico? Apa sih, yang dibutuhkan Rico! Kok mau-maunya bersusah payah?. Pasang jerat kelinci trus ditinggal tidur 'kan mudah? Dapat satu ekor kelinci 'kan sudah cukup buat makan? Kalau dapat kelinci ya beruntung ..kalau tidak ya ...nasib! Gitu aja kok repot!
Biasanya, warga kampung itu memasang jerat untuk menangkap kelinci. Sisa waktunya buat bersendau gurau atau tidur-tiduran. Kalau ada kelinci yang terjerat ya beruntung, kalau tidak, .... ya, ... laper!
Tapi Rico berpikir lain! Hari itu ia tampak berjalan merunduk di hutan dengan membawa panah. Setelah beberpa kali gagal memanah, akhirnya ia dapat juga seekor kelinci.Sore itu, sementara yang lain pulang dengan tangan hampa, Rico membawa seekor kelinci gemuk untuk mengisi perutnya.
Dari hari ke sehari, kemampuan Rico dalam hal memanah kelinci makin meningkat! Prestasinya makin meningkat. Dalam sehari kadang dua atau tiga ekor kelinci berhasil diperoleh. Lho! untuk apa? Ia makan semua? Jelas tidak! Seekor kelinci cukup banyak untuk isi perutnya. Sisanya..ia bagi-bagikan kepada tetangga.
Dasar Rico! Kini dia tidak lagi puas hanya memanah kelinci. Memanah kelinci bukan lagi tantangan baginya. Kini ia mengubrr-uber kijang! Jauh lebih sulit memang! Tapi, ..ketika ia pulang dengan memanggul seekor kijang, warga kampung mengelu-elukan dan memberinya tepuk tangan.
Kini Rico tak lagi bekerja keras demi perut. Dengan kemampuannya itu, ia merasa puas ketika tetangganya pada makan kijang hasil kerja kerasnya. Padahal..dia dulu juga ga' becus memanah seperti tetangganya yang lain!
Pada awalnya ia hanya berusaha mencari tantangan. Jika berhasil mengalahkan, ia merasa puas. Bahagia! Kini bahkan terbalik ..tantangan justru menghadangnya! Tantangan terberat baginya adalah ... ketika warga kampung memilihnya menjadi kepala suku! Dan ..ia merasa tak bisa menghindari tantangan itu!
............
Cerita ini cuman rewriter! Daku tulis-ulang sebisaku dari karya Yon Paulanka, Achevemnt Motivation Development, terbitan HRDMedia. "Sesungguhnya setiap orang -disadari atau tidak- memiliki motivasi berprestasi, namun kadar atau tingkatnya berbeda-beda. Faktor pemuas-nya juga berbeda-beda. Rico, hanyalah manusia biasa yang berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Itulah yang memberinya kepuasan hidup" demikian lanjut Yon Paulanka.
Sesungguhnya apa sih yang dicari Rico? Apa sih, yang dibutuhkan Rico! Kok mau-maunya bersusah payah?. Pasang jerat kelinci trus ditinggal tidur 'kan mudah? Dapat satu ekor kelinci 'kan sudah cukup buat makan? Kalau dapat kelinci ya beruntung ..kalau tidak ya ...nasib! Gitu aja kok repot!
04 Januari, 2009
Berprestasi. Satu-satunya pilihan
Senang, ya banyak liburan. Hari besar, cuti bersama, banyak kesempatan berwisata! Semoga setelah rekreasi, dapat meningakatkan kreasi. Dengan banyak menjalani ritual, kita memperoleh kekuatan spiritual. Bagiku hari ini adalah hari pertama bekerja di tahun yang baru. Tapi, liburan tahun ini daku ga' kemana-mana, kok! Daku memilih liburan buat merawat Bokap yang barusan alami serangan jantung.Sayangnya ...
daku belum selesai buat rencana ke depan. Masa ga' direncanain, walau semua 'dah di tentukan oleh Yang Di Atas, trus kita ga' ikhtiar, gitu? Setidaknya, rencana yang matang akan meminimalisasi kemungkinan terjadinya kesalahan langkah. Tapi ga' apalah, direncanain sambil jalan.
Kadang daku terpengaruh juga oleh beberapa pernyataan teman, buat apa sih, berprestasi, kalu gajinya ya cuma segitu-segitu aja? Itu pernyataan yang membuat hatiku sedih. Hari gini, kok masih ada perusahaan yang tidak menghargai karyawannnya. Kadang mencoba berpikir dari sisi berbeda, kalau prestasi karyawan ga' meningkat, apa ya mungkin penghasilan perusahaan meningkat? Apa lagi, mengadapi krisis global begini. Kayaknya malah diperlukan kerja lebih keras lagi. Kayaknya, harus berprestasi lebih tinggi lagi! Kalo perusahaan bangkrut, trus kita ke mana?
Daku paham, tentang prestasi ini daku sendiri suka berdilema. Kadang-kadang dapat berpikir jernih. Berprestasi memang tidak selalu menghasilkan uang. Tapi selalu menghasilkan kepuasan batin. Tapi. kalau tidak berprestasi, bahkan bisa tidak dapat mendapatkan semuanya... bisa dipecat malah. Jadi berprestasi menjadi satu-satunya pilihan! Jika pun tak dapat uang, setidaknya dapat kepuasan batin.
Trus, berprestasi tuh yang bagaimana sih! Ya, tentu saja setiap orang punya ukuran masing-msing, tergantung kapasitas ia sebagai apa? Kalau daku sih sederhana saja. Berprestasi adalah menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemain maka dia termasuk orang yang dilaknat Allah.(HR Mochamamad SAW, Buchari)
Semoga Anda termasuk orang yang beruntung di tahun 2009 ini. Amien.
daku belum selesai buat rencana ke depan. Masa ga' direncanain, walau semua 'dah di tentukan oleh Yang Di Atas, trus kita ga' ikhtiar, gitu? Setidaknya, rencana yang matang akan meminimalisasi kemungkinan terjadinya kesalahan langkah. Tapi ga' apalah, direncanain sambil jalan.
Kadang daku terpengaruh juga oleh beberapa pernyataan teman, buat apa sih, berprestasi, kalu gajinya ya cuma segitu-segitu aja? Itu pernyataan yang membuat hatiku sedih. Hari gini, kok masih ada perusahaan yang tidak menghargai karyawannnya. Kadang mencoba berpikir dari sisi berbeda, kalau prestasi karyawan ga' meningkat, apa ya mungkin penghasilan perusahaan meningkat? Apa lagi, mengadapi krisis global begini. Kayaknya malah diperlukan kerja lebih keras lagi. Kayaknya, harus berprestasi lebih tinggi lagi! Kalo perusahaan bangkrut, trus kita ke mana?
Daku paham, tentang prestasi ini daku sendiri suka berdilema. Kadang-kadang dapat berpikir jernih. Berprestasi memang tidak selalu menghasilkan uang. Tapi selalu menghasilkan kepuasan batin. Tapi. kalau tidak berprestasi, bahkan bisa tidak dapat mendapatkan semuanya... bisa dipecat malah. Jadi berprestasi menjadi satu-satunya pilihan! Jika pun tak dapat uang, setidaknya dapat kepuasan batin.
Trus, berprestasi tuh yang bagaimana sih! Ya, tentu saja setiap orang punya ukuran masing-msing, tergantung kapasitas ia sebagai apa? Kalau daku sih sederhana saja. Berprestasi adalah menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemain maka dia termasuk orang yang dilaknat Allah.(HR Mochamamad SAW, Buchari)
Semoga Anda termasuk orang yang beruntung di tahun 2009 ini. Amien.
11 Desember, 2008
Awas, Bahaya Narsis!
Apakah narsis? Daku melihat berbagai perbedaan divinisi tentang istilah ini. Tapi, daku tidak ingin melihat istilah ini dari sisi ilmiah. (alamaaak, emangnya dikau punya kompetensi untuk itu, Whien?-Red) Daku hanya ingin melihat narsis dari sisi percakapan sehari-hari. Sesungguhnya narsis adalah nama bunga indah yang banyak terdapat di darah subtropis, yang berwarna putih, krem atau kuning, yang dalam bahasa latin disebut: amarylidaceae.
Sedangkan narsisis atau narsisisme, punya dua pengertian. Pertama, adalah keadaan mencintai diri sendiri secara berlebihan. Pengertian kedua adalah: hal atau keadaan mempunyai kecenderungan (keinginan) seksual dengan diri sendiri. Dari dua divinisi di atas, tampaknya lebih banyak berkaitan dengan libido. Bukan kebanggaan pada diri sendiri. Memang, pada penderita psikopat suka ditemui gejala narsisis yang kaya gini. Tapi, bukan berarti kalau dikau narsisis terus juga psikopat, lho!
Atas dasar berbagai reverensi yang sempat saya peroleh, bangga kepada diri sendiri, atau kebutuhan mengaktualisasi diri, merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Bahkan, kebutuhan itu merupakan bagian penting dari daya hidup (power of life).
Bangga dan cinta kepada bangsa juga muncul secara fenomenal. Bahkan, di mulai dengan bangga dan cinta kepada kampungnya. Kebanggaan yang kaya gini, bahkan, bisa dibela-belain hingga antar kampung bisa saling berantem. Narsisisme dalam skala masal seperti ini disebut souvinisme. Jadi narsisisme merupakan sesuatu yang wajar.
Masalahnya jadi lain jika narsisisme muncul secara berlebihan. (kayaknya semua yang berlebihan itu jadi ga’baik ya?).
Trus, yang dimaksud berlebihan itu yang kaya apa? Apa tolok ukurnya? Nah, disinilah susahnya. Ini yang ngebikin kepala ambo jadi pusyiang! Jawabannya nunggu kalau ambo ‘dah jadi ahli psikometri! (Whien, bangun! Mimpi, ya?)
Nah dari pada pusying-pusyiang mecari tolok ukur tersebut. Daku punya kiat. Sepanjang dikau tidak merendahkan atau merugikan orang lain, silahkan bernarsis ria! Bangga kepada diri sendiri,
Labeling:
Sering kali , yang lebih berbahaya malah bukan narsisisme-nya. Tapi label “narsis” yang dikenakan pada seseorang. Memakai kaca hitam di cap “narsis”. Foto dengan memasang gaya diberi label “narsis”. Mejeng di mall di beri stigma “narsis”. Kita dapat melihat di sejumlah blog. Ada bloger yang memampangkan fotonya, berkata: “Bukannya gua narsis ya?”. Ucapan demikian juga muncul pada para bloger senior yang ingin berbagi pengalaman keberhasilannya. Karena takut di beri label narsis, kalimatnya menjadi berbelit-belit. Alhasil paparannya yang berbobot justru malah mengambang!.
Negative labeling berpotensi besar dalam gangguan kesehatan jiwa sesorang. Bahkan, yang dilakukan dalam konteks bercanda sekalipun. Seseorang yang diberi label narsis” dapat terkikis percaya dirinya. Ia bisa takut berekpresi, takut beraktualiasi. Maka, hilanglah keberdayaannya. Pemberian label demikian dapat mengkondisikan seseorang kedalam jiwa vatalistis …be nothing. Aku bukan siapa-siapa … ini mimpi buruk! Sebaliknya, bisa jadi, yang suka memberi label negatif itulah yang malah perlu dipastikan kesehatannya!
Sekali lagi, sepanjang dikau tidak berniat merendahkan orang lain, silakan “bernarsis ria”. Silakan unjuk kebolehan (aktualisasi diri). Jangan segera “mengkeret” jika di beri label narsis. Dikau dapat kehilangan performans-star yang dikau dambakan! Tunjukkan kepada dunia siapa dikau! Banggalah dan cintailah diri sendiri, sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Tunjukkan kalau ciptaan Tuhan selalu the best! Bukankah Tuhan sendiri berfirman kalo kita dikaruniai kelebihan di antara satu sama lain? Langkah berikutnya, kita berusaha sebisanya agar berguna bagi orang lain. Ntar ‘khan label yang kita dapat juga lain lagi! Gitu aja, kok repot!
”Express your self and get feed back” Demikian seruan dari bloger.com!
Yups! Kalau ambo salah mohon dibenerin, ya! Success4U!
05 Desember, 2008
Bencana akibat kesalahan kecil
Malulah daku jika berpikir demikian. Beberapa kali daku menjumpai kesulitan, cuma gara-gara kerikil kecil. Contohnya kunci kendaraan. Sudah waktunya berangkat kerja masih bingung mencari kunci kendaraan. Pernah juga daku melanggar appoinment gara-gara benda itu. Biasanya kubiarkan kunci itu berada di saku blazer. Tapi blazer yang mana. Gara-gara mencari kunci sialan itu, tak urung kamarku jadi porak poranda kayak dilanda gelombang tsunami. Nyokab pun jadi sasaran kemarahan. Soalnya, Nyokab jualah yang lebih sering ngeberesin kamarku.
Kejadian ini nyaris sama dengan yang kubaca dalam buku best-sellernya John Adrew yang berjudul Superself. "Jangan biarkan hal sepele mengganggu achievement Anda" katanya. Seberapa banyak produkrivitas kita terganggu gara-gara "kebiasaaan" kecil ini. Misalnya, flash-disk! Memang benda itu udah daku kalungin di leher. Tapi, tinggal tutupnya doang! Bodynya entah terselip di mana. Tertinggal di ruangan boss atau di kamar mandi. Misalnya lagi, berkas yang tak dikembalikan ke dalam foldernya, kebiasaan menaruh file di My Document tanpa di proteksi, dan sebagainya. Bayangkan! Hampir setengah hari waktu ku habis hanya untuk pekerjaan "mencari"
Maka, jadilah hari buruk bagku.
Kembali ke anak kunci. Dengan menyediakan tempat kusus semacam pernik keramik di meja hias, "bencana" seperti itu tak bakal terjadi. Yang diperlukan hanya sebuah disiplin kecil. Letakkan pada tempatnya. Dan dalam sekala yang lebih besar, ini bagian dari manajement sukses industri Jepang yang dikenal dengan 5S! Berbobot
nih, ye!
Akhirnya, dengan membulatkan tekat, kutegakkan sebuah disiplin kecil. Kusediakan tempat kusus bagi kunci kendaraan itu. Sebuah hiasan berbentuk cawan, ternbuat dari keramik, kuletakkan di meja kamar. Dan sejak saat itu, waktu santaiku menjadi lebih banyak.
Hingga sekarang, dalam keseharian, masih saja daku melihat orang-orang di sekitarku yang ribut mengenai kuncinya. "Lu ngelihat kunci gua? Tadi gue taruh di sini? Siapa yang ambil?". Itu pertanyaan dia yang kesekian puluh kalinya! Dan daku hampir malas ngejawabnya. Sekali-sekali niru perilaku binatang kenapa sih! "Tidak mengulangi kesalahan!"
Sejak latihan disiplin kecil tersebut, daku lebih nyantai ketika berangkat ke kantor. Sunguh ga' enak memulai pekerjaan penting dengan pikiran yang stress. Ya, cuma gara-gara kunci kendaraan atau flash-disk.
Kini, daku bisa duduk di meja dan siap mempertahankan performance-star. Flash disk siap, semua siap ...
Alamaak ... kunci lanci mejaku ketinggalan di rumah! Dasar manusia ... ...
30 November, 2008
Cara mengatasi Bad Mood
Pekerjaan banyak. Target masih cukup jauh tapi dead line makin dekat. Sialnya, Anda justru tidak bersemangat untuk melakukan apa pun. Jika ini terjadi, bisa jadi Anda sedang terserang bad mood. Itu penyakit serius yang mengancam starperformance Anda. So, what should we do?Upaya mempertahankan status sebagai bintang kinerja sering kali melupakan waktu istirahat. Hingga saat ini beberapa ahli masih ada yang menyarankan bahwa istirahat 6-8 jam sehari cukup untuk mempertahankan kinerja. Ternyata perkembangan menuntut lain. Tidur saja tidak cukup.
Trus, saya berusaha mencari berbagai referensi. Beberapa di antaranya memang oke punya! Nih, saya akan berbagi. Saya sudah mencoba, kok! Kiat di bawah ini terbukti manjur untuk mengatasi serangan bad mood yang bisa bikin redup starperformance kita!
Olah-raga. Lakukan olah raga hanya untuk tujuan bersenang-senang, bukan tujuan untuk mencapai tingkat prestasi tertentu. Aktivitas ini akan memicu keluarnya zat endorphine yang memberikan kesegaran otak dan mengurangi rasa tidak nyaman.
Tertawa. Tertawalah hanya untuk hal-hal yang memang lucu dan menimbulkan kegembiraan. Lepaskan tertawa Anda tanpa di tahan-tahan. Jika perlu, kunci kamar dan nonton film kartun, lalu terbahak-bahaklah. Lima atau sepuluh menit tertawa, cukup meangsang pengeluaran endorphine, serotonin dan metanonin. Zat-zat itu sejenis morfin poduksi tubuh yang dapat menimbulkan kondisi santai. Puaskan tawa Anda di kamar, jangan sambil nyetir di jalanan! Ntar urung nyampe di kantor, tapi ke RSJ.
Menangis. Bantal dapat digunakan sebagai sasaran untuk menumpahkan air mata. Menangis dan berteriaklah tanpa harus mengingat hal-hal yang sedih. Ini cara mudah untuk mengeluarkan adrenalin. Di samping itu, para ahli menyiarkan bahwa airmata memang diciptakan untuk merawat kesehatan mata secara alami. Menangislah hanya di dalam kamar tertutup agar tidak membuat sedih keluarga Anda.
Curhat. Usahakan mempunyai teman untuk berbagi kekesalan. Cara ni akan mengurangi stres Anda. Berbagi kekesalan dengan pasangan hidup, tidak selalu bebuah baik. Isteri atau suami Anda justru merasa lebih cemas di banding Anda. Carilah teman curhat, bukan penasehat. Anda hanya sedang perlu membuang kekesalan Anda ke "keranjang sampah" bukan mencari solusi. Seorang sahabat biasanya juga sebagai "keranjang sampah" yang baik.
Meditasi. Yang ini tak dapat terlewatkan. Cara ini terkesan seperti metodologi kuno. Namun, seiring kecanggihan instrumen neuropsichologi, telah ditemukan pengaruh positip meditasi atau tafakur ini; baik scara psikis maupiun fisik.
Nah, sementara, ini dulu. Kalau nemu kiat lagi, saya akan berbagi di sini. Atau Anda punya kiat lain? Success4U. Whienda.
28 November, 2008
Menjadi Keranjang Sampah
Sungguh tak mudah membuat hidup ini menjadi bermakna bagi orang lain. Eh, setidaknya tidak mudah bagiku. Padahal, kayaknya, kesempatan untuk jadi bermakna itu sering menghampiriku. Misalnya, ketika ada seorang teman sedang curhat kepadaku. Itu adalah kesempatan bagiku agar hidupku bermakna. Kenyataannya, aku sering berbuat kesalahan sehingga kesempatan itu terlewatkan. Semula, dengan memberinya nasihat, aku mengira telah membantunya. Belakangan, aku ketahui kalau memberi nasihat itu lebih banyak merupakan kesalahan. Ternyata, tidak semua teman yang mengeluh atau curhat ingin memperoleh penyelesaian. Bahkan seringkali ia sendiri sudah mengetahui masalah dan jalan keluarnya. Lalu mengapa ia merasa perlu mengeluh atau curhat kepadaku atau kepada Anda? Tenyata, ia hanya ingin memperoleh dukungan atas solusi yang akan ia lakukan. Demikian juga, ketika Anda mengangguk-angguk dihadapannya, ia akan puas. Tetapi jika Anda bersikap mengkoreksi, akan terjadi perdebatan dan membuat teman Anda makin masuk ke kegelapan. Anda bukan lagi penyuluh baginya.
Ini sebuah analogi. Dalam kegelapan, seseorang bertanya kepada Anda, "Di mana pintu keluar?" Anda menjawab, "Pintu keluarnya terletak dekat almari, terus belok kanan sedikit. Hati-hati jangan sampai menubruk meja". Efektifkah nasihat Anda? Apakah tidak lebih efektif dibanding Anda menyalakan korek api? Itulah penyuluh. Jika Anda tidak punya korek api, maka terjadilah si buta menuntun orang buta! Faktor utama yang memungkinkan kondisi demikian terjadi adalah karena tiap orang berbeda cara memandang suatu masalah.
Ada pula tipe orang yang curhat karena memang benar-benar butuh jalan keluar. Tandanya, ia lebih dari sekali menceritakan masalah yang sama kepada Anda. Bisa jadi ia telah berusaha menyelesaikan tetapi tak berhasil, atau belum melakukan apa pun menunggu masukan dari Anda. Tanda yang lain adalah, ia tak segan-segan menceritakan masalahnya dengan detil, bahkan hingga masalah paling pribadi. Dan, tanda yang paling nyata adalah munculnya pertanyaan secara ekplisit, "Bantu gue dong! Gimana ngatasi masalah ini?".Dan, mengahadapi teman dengan tipe ini, kita mesti bersedia memandang masalah itu sebagaimana ia memandangnya. Dengan demikian, kita bisa benar-benar dapat merasakan apa yang ia rasakan. Inilah yang disebut emphaty.
Mungkin Anda pernah menjumpai kasus berikut. Setiap kali Anda memberi solusi, ia akan memunculkan problem baru akibat solusi Anda. Kemudian, Anda pun tergoda memberi solusi lebih baru. Begitulah seterusnya setiap kali ada solusi akan muncul lagi problem yang lain ... menyebalkan ya?
Kita memang tidak dapat memberikan keputusan untuknya dengan kondisi atau cara pandang kita. Tetapi kita dapat memberinya feed-back dengan mengingatkan untung rugi yang mungkin akan terjadi. Itu akan cukup menjadi referensi baginya untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi, kita bisa saja mendadak menjadi seorang konsultan hanya dengan menjadi pendengar yang baik. Bukan penasihat! Jadi keranjang sampah gitu lho!
"Sampah-sampah" itulah yang membuat pikirannya jadi gelap. Dengan membuang sampah itu ke Anda, ia akan mampu berpikir jernih dan terang. Inilah curhat yang fenomenal! Anda punya ide lain? Success4U. Whienda.
19 November, 2008
18 November, 2008
Kebiasaan berpikir positip
Kiranya semua orang yang berusaha berkembang pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani dengan berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri agar pikiran positif 'beredar' di kepala kita? Tak banyak yang punya ide smart untuk itu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba menirunya.Sudah barang tentu banyak perilaku yang mengindikasikan kebiasaan seseorang yang berpikir positip. Aku punya catatan sedikit untuk itu. Dengan yang sedikit itu, setidaknya sudah bisa kita mulai.1.Melihat masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan membikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
2.Menikmati hidupnya. Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, namun tak berarti tidak berusaha mencapai hidup lebih baik.
3.Pikiran terbuka, menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu jadi lebih baik.
4.Mensyukuri apa yang telah dimiliki. Dan, bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak diperolehnya.
5.Tidak membesar-besarkan masalah. Ini bagaikan teroris yang memasang bom waktu. Ini kelakuan Pemikir Tanggung yang suka membahas-bahas masalah. Sementara Si Pemikir Besar membahas solusi, si Pemikir Kecil membahas orang lain.
6.Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan. Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.
7.Menggunakan bahasa positif. Maksudnya, menggunakan kalimat-kalimat yang bernada optimis, misalnya, "Masalah itu pasti akan terselesaikan", "Dia memang berbakat", "Pasti ada jalan keluar!"..dan sebagainya.
Anda ingin menambahkan agar lebih komplit? Success4U.Whienda
Langganan:
Postingan (Atom)





