Tampilkan postingan dengan label Just idea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just idea. Tampilkan semua postingan

21 Desember, 2009

What you can get with money?

If you are confused to buy everything because you has a lot of money, this is the solution.

With money you can buy a house but not home
With money you can buy a clock but not time
With money you can buy a bed but not sleep
With money you can buy a book but not knowledge
With money you can buy medicine but not health
With money you can buy blood but not life
With money you can buy brain but not intellegence
With money you can buy liver but not heart
With money you can buy sex but not love
But ...
With love you will get everything...

And,
With Whienda ... you can get love! Haa..ha!



18 November, 2009

Menulis itu mudah?

Menulis itu sulit? Sepertinya, tidak, lho! Menurutku, menulis itu tidak sulit, kok! Tentu saja, yang saya maksud dengan "menulis" adalah sekadar menyampaikan bentuk pikiran dan atau perasaan dengan menyentuh tombol keyboard. Pernyataanku di atas bukan berarti daku yakin tulisanku bagus (apalagi paling bagus).

29 Desember, 2008

Tahun Baru Hijrah, Ide Siapa?

Dalam agama Islam dikenal banyak hari penting. Masing-masing memiliki makna yang berbeda. Namun , konon hanya ada dua yang wajib dirayakan. Yaitu dua hari penting yang diberi nama Idhul: Idhul Fitri dan Idhul Adha. Hari-hari penting yang lain lebih sekadar sebagai jangkar untuk mengingatkan pada momen-momen bersejarah. Entah mengapa, kok di negeri kita ga' ada tradisi merayakan tahun baru hijrah! Cuma "tanggal merah" doang? Sesungguhnya ide siapakah Peringatan Tahun Baru Hijrah? Apakah maknanya?

Sepeninggal Rasululah, masyarakat Islam merasa perlu memiliki kalender sendiri,dengan cara penentuan hari, bulan dan tahun sesuai dengan wahyu Allah. Ide pembuatan kalender ini dilontarkan oleh Amirulmukminin Umar Ibn Kathab (586-644 M), yang selanjutnya dimusyawarahkan dengan berbagai tokoh pada waktu itu.
Dalam musyawarah itu dibahas bermacam-macam pendapat mengenai hari bersejarah apa yang akan dijadikan patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan agar tarikh Islam dimulai dari hari lahir Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya ada yang mengusulkan dimulai dari hari wafat beliau. Ada pula yang menghendaki tarikh Islam itu dimulai dari saat Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul. Ternyata, yang disepakati adalah bahwa kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Mohammad dari Mekkah ke Madinah. Mengapa?

Dibandingkan dengan tonggak-tonggak sejarah dalam Islam yang lain, hijrah ke Madinah memang merupakan hari yang paling bermakna. Hijrah merupakan tonggak pemisah antara kondisi jahiliah di Makkah dan kondisi peradaban Islam. Dan, menurut Saydina Umar Hijrah itu merupakan pemisah antara yang haq dan yang batil.

Peringatan Tahun Baru Hijrah, 1 Muharam 1430 Hendaklah bukan sekadar mengingat perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah saja meski peristiwa itu memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Diharapkan peringatan Tahun Baru Hijrah ini dapat mengingatkan orang betapa keangkuhan jahiliah telah ditinggalkan oleh muslim-muslim teladan di bawah kepemimpinan Muhammad SAW menuju peradaban dan keluhuran akhlak. Demikian imbau Gus Mus(A Mustafa Basri).

Tahun inilah saatnya terjadi hijrah dari perselisihan ke persatuan. Permusuhan hijrah ke persaudaraan. Kesombongan berganti kerendahan hati, fanatisme buta digantikan oleh tawasuth wal I'tidaal. Merasa pintar sendiri digantikan oleh ketakwaan dan kesediaan menghargai pihak lain.

Semoga kita memperoleh kekuatan dan ridha Allah agar kita mampu menundukkan ego degil kita karena itu merupakan tembok penghalang perjalanan hijrah ke kawasan yang lebih baik. Amin.

Selamat Tahun Baru, Selamat "Berhijrah"

26 Desember, 2008

Syalom Allaikhem

Waktu itu teman-teman dari Universitas Muhamadiah lagi pada ngerumpi. Mereka lagi punya gawe kecil-kecilan. Biasa! Diskusi tentang hot-topic. Daku menghampiri dan memberi salam, "Salam sejahtera dalam Rahmat Allah dan Berkahnya". Mereka tak ada yang menyahut. Trus daku beri salam lagi: "Assalam mu'alaikum Wa Rochmat'u Allahihi wa Barohah-tu." Mereka pun serentak mengucapkan kalimat yang sama. Lho, kok bisa!

Lantas daku berkata, "Wah kalian pada pinter bahasa Arab semua ya? Sampai salamku dalam bahasa Indonesia ga' kalian mengerti!" Kata-kataku membuat mereka terperanjat. Secara spontan mereka mengeroyokku, "Sialan lo Whien! Elo menjebak kita-kita, ya?". Diriku pun di uyel-uyel habis. Rambutku jadi amburadul, ga' karuan!

Bercanda, memang! Tapi salam tadi lantas jadi hot-topic. Perbedaan pendapat-pun tercurah.
Asumsi-nya, tidak banyak orang yang mengerti arti Assalam'mualaikum, dan menggunakan sebagai sekedar "alat" menyapa belaka! Sebagian lagi berasumsi, bahwa walau mengerti artinya, tapi salam itu diucapkan secara artikulatif semata ... tidak sepenuh perasaan dan harapan. Jadi, ya, efektifitasnya berkurang!

Padahal, jika salam tersebut diucapkan dengan sepenuh hati, tentulah akan menimbulkan suasana yang sejuk. Daku mengalami sendiri, kok! Salam yang daku sampaikan dengan sepenuh hati, telah membimbing diriku sendiri dalam bersikap. Seandainya salam itu tak berpengaruh kepada orang lain, setidaknya berpengaruh terhadap diriku sendiri. Misalnya, sebagai pengirim salam, suasana hatiku menjadi lebih sejuk. Bahkan, ketika terjadi perdebatan sengit sekalipun, daku masih sanggup menggendalikan diri. Hanya karena menghayati Assalam Mualaikum wa Rocmhatu Allaihi wa Batokah'tu itu!

Sesungguhnya, sejak jauh hari Isa al Maseh Alaihi wa sallam, atau yang lebih dikenal sebagai Yesus Kristus juga sudah bersabda: "Apabila kamu masuk rumah orang, ucapkanlah Syalom Alaikhem. Tapi apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu begitu saja, apakah lebihnya kamu daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun dapat berbuat demikian? (Injil, Matius 5:7; 10:12, Jewish Testament Publications, 1989)

Indah sekali hari itu. Perbedaan dalam kebersamaan. Tidak harus kesamaan!
Tentang kebersamaan ini, daku jadi ingat sabda Yesus: “Dan hendaklah orang-orang datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka duduk bersama di dalam Bait’Allah (Injil Lukas 13:29, Ibrani: Sefer Ha B’it ha-Hadasah, Jerusalem, Unites Bible Societies, 1992)

Yang lebih indah lagi, yaitu, ketika Nabi Mochammad mengajak dan memimpin semua pemuka agama yang bersumber dari Nabi Abraham (Tauchid =Oneneess=Keesaan) melakukan renovasi Bait’Allah …
Ah... andaikan kebersamaan seperti waktu itu berlangsung hingga kini dan …tak tercampuri urusan politik … betapa indahnya dunia! Tidak harus kesamaan! Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku ... dan tetap berpeganglah kamu semua kepada tali kasih Allah

Mohon maaf jika Whienda salah ..wong cuma baru bisa mengutip bukan menafsir.

*) Bait'Allah, Baitullah, adalah "rumah Tuhan" yang pertama, dibangun oleh Nabi Abraham.

25 Desember, 2008

Kontroversi: Natal vs Sinterklas

Tanpa menghiraukan kontroversi yang terjadi, di seputar Natal, yang paling menyenangkan bagiku adalah Sinterklas. Itu lho, sosok kakek tua, berjenggot putih dan berbaju merah Coca-Cola. Di musim salju, kakek itu datang dari Kutub Utara mengendarai kereta yang ditarik rusa. Dari kantung besar di pungungnya, ia membagi-bagi hadiah untuk anak-anak yang tidak nakal. Kemunculannya di seputar Natal diiringi oleh Swarte Piet dengan membawa karung. Maksudnya, untuk menakut-nakuti nak-anak agar tidak nakal. Sayangnya, kehadiran Si Hitam ini justru ditakuti dan dimusuhi oleh nak-anak. Mereka mencintai si Putih dan memusuhi si Hitam.

Siapa sesungguhnya kakek yang baik hati itu? Tidak jelas. Ada yang mengatakan bahwa pencetus ide ini adalah kelompok mahasiswa penyayang anak-anak di Polandia. Menurut Romo Eko Wiyono, Sinterklas adalah rekayasa Haddon Sundblom, manajer humas Coca-Cola untuk keperluan iklan (1931-1964) Di Amerika, Sinterklas telah menyimpang jauh menjadi “power” pendongkrak penjualan berbagai produk. Santa Claus dianggap sebagai pengobar sikap konsumtif masyarakat.
Konon, sosok Sinterklas, ini adalah sosok nyata, Yaitu Santo Nicholas, seorang pastur termuda di Vatican yang berusia 18 tahun. Ada juga yang mengatakan Nicholas adalah seorang uskup di Turki pada abad ke 4 masehi. Karenanya, banyak kalangan meyakini bahwa Sinterklas dan Santa Claus adalah sosok berbeda. Santa Claus bukan seorang pastur. Sedangkan Sinterklas adalah sebutan orang-orang Belanda bagi Santo Nicholas, sang pastur belia yang dermawan itu.

Siapa pun dia, seorang pastur atau bukan, sebagian gereja menolak kehadirannya. Kehadiran pak tua baik hati itu terkesan lebih menonjol dibanding “kehadiran” Yesus Kristus. Peringatan Natal di gereja menjadi berkurang sakral-nya. Kalau diadakan di luar gereja, ya tidak masalah. Alasannya, Sinterklas tidak ada hubungan langsung dengan kelahiran Yesus Kristus. Lebih dari itu, kelahiran Putra Mariam itu juga bukan di musim salju. Tapi, ketika bintang-bintang gemerlap di langit!. Kelahirannya ditandai dengan “bintang kejora” yang cemerlang di atas Betlehem.

Menurut Romo Eko Wiyono, pastor Paroki Hati Kudus Yesus: "Kalau memang berniat mendidik anak-anak dengan bagi-bagi hadiah, mbok ya, di tempat yang tepat. Misalnya, di barak-barak pengungsi, korban bencana alam, atau kepada mereka yang lebih membutuhkan. Bukan di mall-mall yang lebih menonjolkan upaya mendongkrak pemasaran atas nama Yesus".

Bagi yang merayakan Natal: Salam Kedamaian, dari Whienda.
Image: Beauty Santa Clause and Coca-Cola, peaceday.com

23 Desember, 2008

Silent Killer

Postingan kali ini buat mencoba 'ngelamar' kerjaan jadi dokter dadakan di duniamaya88. Ah, angap-anggap ngerjain PR, sekadar bercanda! Daku tulis tadi malam, trus jemput Papa dari RS. Daku pengin cerita dikit seputar Silent Killer yang barusan menyerang bokap. Padahal, penyebabnya cuman "sepele". Tapi, yang "sepele" itu adalah pembunuh berdarah dingin yang bisa menghabisi nyawa hanya dalam hitungan menit bahkan detik.

22 Desember, 2008

Rasulullah: Konsep Ibu dan Emansipasi

Ketika terjadi Perang Uhud, Rasullulah melihat seorang wanita tengah bertempur dengan gagah berani. Pada saat yang tepat, Rasullulah memanggil wanita prajurit itu: "Zuraidah, Bukankah lebih baik engkau di rumah saja untuk merawat anak-anakmu?"
Mendapat pertanyan itu Zuraidah hanya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Ketika merasa Rasullulah tidak benar-benar memerlukan jawaban, Zuraidah mengundurkan diri dan kembali ke medan laga! Kini, giliran Rasullulah yang hanya dapat bergeleng-geleng kepala.

Pada ketika yang lain, Rasullulah memanggil Zuraidah kembali, "Zuraidah, suamimu mendapat cuti. Tidakkah engkau mengambil cuti dan pulang untuk melayani suami serta anak-anakmu?"
Kali ini Zuraidah tak dapat menolak saran Rasullulah. Bersama suaminya ia pulang. Cuti!

Dasar jiwa prajurit, ketika masa cuti habis, Zuraidah kembali bertempur. Lebih menggemaskan lagi, anak-anaknya pun di bawa ke medan perang dan di titipkan di dapur umum. Untuk kesekian kalinya Rasulullah hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.

Alkisah, Tuhan berkehendak lain. Sebatang anak panah meluncur tepat mengenai dada Zuraidah. Wanita gagah berani itu pun tumbang. Rasululah serta merta bersimpuh di depannya. Itu pemandangan yang langka. Tidak seperti itu kebiasaan Rasullulah menghormati prajurit Allah yang gugur.

Melihat keadaan demikian, Sang Panglima, Kalifah Umar, meminta seluruh prajurit menghormati Zuraidah seraya berorasi: "Dia adalah wanita gagah berani, Zuraidah adalah seorang parajurit wanita yang patut di teladani, hingga Rasullulah berkenan memberi hormat sacara khusus ...!"

Tapi, Rasulullah meyela, "Aku menghormati Zuraidah sebagai prajurit yang baik, tapi aku
bersimpuh di hadapannya karena ia seorang ibu yang baik".

Success4U. Whienda.

20 Desember, 2008

Hari Ibu, Masihkah perlu?

Indonesia punya dua hari penting bagi wanita. Yaitu, Hari Kartini tiap 21 April dan Hari Ibu tiap 22 Desember. Kontroversi antar dua peringatan itu masih saja terjadi. Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap dari tulisan Mbak Fany, kordinator Sarinah, Lembaga Pemberdayaan Perempuan di Jatim.

Terlepas dari keteladanan yang diberikan oleh Dewi Sartika (ikon Hari Ibu) konotasi tentang ibu bertolak belakang dengan semangat emansipasi. Bila emansipasi mendorong keluar dari sektor domestik untuk masuk ke sektor publik, konsep hari ibu adalah sebaliknya. Kesannya Hari Ibu merupakan rem semangat Hari Kartini. Hari Ibu, menurut saya, justru manjadi ambigu dari transformasi dan gerakan social kita yang diinspirsi oleh gagasan emansipasi perempuan. Demikian tulis Mbak Fany Setyawati(JP20/12/08)

Terus terang, daku rada-rada bingung tentang dua hal ini, konsep emansipasi dan konsep ibu. Sepertinya sudah terlanjur melekat dibenakku bahwa martabat seorang ibu sedemikian tingi di mata Islam. Ungkapan-ungkapan seperti surga di bawah telapak kaki Ibu, sudah menjadi kebenaran sehari-hari. Bahkan, ada yang menganggap mencium kaki Ibu sebagai ritual yang harus dijalani. Tetanggaku, mengatakan: “Ketika berangkat merantau ke Jawa, aku cium kaki ibuku. Kenyatannya, usahaku di Jawa berhasil” katanya bangga. “Itulah bukti nyata ungkapan surga di bawah telapak kaki Ibu!” tambahnya.

Diriwayatkan, Tuhan tidak akan mengampuni dosa seorang Anak sebelum si Ibu meridainya. Jadi, untuk mengampuni seseorang anak, Tuhan mesti menunggu ridha Si Ibu?
Dan, ini lebih dahsyat lagi. Seorang anak wajib memenuhi panggilan Ibunya walau sedang solat? Hah? Luar biasa…demi seorang ibu, Tuhan bersedia “mengalah”?
O..sedemikian terhormatkah kedudukan seorang Ibu di mata Tuhan?

Kayaknya, yang ini tidak kalah luas maknanya. “Baik dan buruk suatu kaum, ditentukan oleh para wanitanya. Jika wanitanya baik, maka baik pulalah kaumnya!” Wah…Jadi …wanita jugakah penentu kualitas SDM? Sedemikian tinggi Islam menghargai martabat wanita. Kalau toh masih banyak terjadi pelecehan dan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh pria, bukan karena iri, 'kan?

Jadi? Pertanyan Mbak Fany, tokoh pemberdayan perempuan berikut, saya persilahakn untuk Anda jawab. “Agar emansipasi perempuan tidak tersendat, apakah tidak sebaiknya dipertanyakan masihkah kita membutuhkan Hari Ibu?”

I love You, Mom!. Whienda.

Nice Story

Ada cerita-cerita cantik di blog ini. Pendek, indah namun yang terpenting : inspiratif. Akan menjadi bagian dari pertimbangan Anda menentukan pilihan The Way of Live.

Karir

Mendukung Anda, meniti karir, mendaki langit meraih bintang. Ayo berbagi bersama saya di blog ini

Kisah Sukses

Mendukung Anda, meniti karir, mendaki langit meraih bintang. Ayo berbagi. Kita tengok cermati cara pandang, tokoh-tokoh sukses ini.

Hipnosis

Ayo, belajar hipnosis bersama saya di blog ini. Suatu yang sederhana dan alamiah yang akan membuat hidup menjadi lebih mudah untuk di jalani. Saya bantu Anda sebizaku.
Banyak cara membuat Slide Show di Sebizaku. Pasti berjalan baik. Gratis untuk Anda.

aneka slide show
Soft Transition Effect.
aneka slide show
Seperti Kompas.com punya.
aneka slide show
Random Square Transition Effect.